Kesalahan Yang Harus Dihindari Oleh Penulis Pemula

Diposting pada

Bagi seorang yang baru menulis biasanya di akan menemukan banyak sekali hambatan-hambatan. Dan hambatan ini seringkali menjadikannya malas atau bahkan berhenti dari aktivitasnya memulai menulis, bahkan terkadang mereka kehilangan semangat untuk beberapa waktu. Dan ketika itu terjadi, gudang beberapa waktu lamanya untuk membuat mereka bisa bangkit kembali, bersemangat kembali dalam menulis. Bukankah ini kemudian menjadikan waktu yang mereka lewatkan menjadi sia-sia adanya. Untuk mengatasi tersebut hambatan dan Meminimalisasi adanya halangan dengan dalam menulis, kiranya Anda perlu membaca kesalahan-kesalahan yang harus dihindari penulis pemula berikut ini.

Kesalahan-Kesalahan Yang Harus Dihindari

Pertama seorang penulis dilarang untuk menekan tombol delete

Mengapa tombol delete? Karena tombol delete akan mengurangi jumlah kata yang sudah mereka tulis baik itu porsinya sedikit maupun banyak. Kenyataannya, seorang penulis pemula sering kali kehilangan inspirasi, kehilangan kosakata atau gagasan yang mau dia Tuliskan. Dan seringkali dalam beberapa waktu, mereka hanya mendapatkan sedikit sekali tulisan atau hanya mendapatkan beberapa paragraf saja. Padahal mereka telah duduk di depan laptop selama berjam-jam.

Mengapa itu bisa terjadi? Ini disebabkan tak lain karena si penulis seringkali menekan tombol delete. Mereka mengedit di saat mereka menulis. Padahal proses editing itu, yang benar dilakukan setelah menulis selesai.

Ibarat sebuah bangunan, proses menghias, mengevaluasi adalah setelah bangunan itu berdiri. Bukan pada saat proses mendirikannya. Jika demikian halnya maka bangunan pun tidak akan pernah berdiri. Ini juga terjadi pada proses menulis.

Kedua tidak pernah membaca

Seorang penulis harus mewajibkan dirinya untuk memiliki kebiasaan membaca. Harus dan tidak bisa tidak. Bagaimana dia kan bisa menuliskan sesuatu, yang dia sendiri tidak pernah memahaminya. Meskipun ada beberapa orang yang memang dengan keterbatasannya jarang membaca, namun dia adalah seorang pelaku dari apa yang dia tuliskan. Hasil tulisannya pun sangat menginspirasi. Dan cenderung praktis mudah dipahami dan dilaksanakan.

Namun demikian, jika seorang penulis mampu menggabungkan antara teori dengan praktek tentunya ini akan menjadi kekuatan yang sangat besar. Mampu menginspirasi banyak orang dan akan mudah dipraktekkan sebagaimana yang dia lakukan. Kebanyakan dari orang-orang yang menulis itu adalah hasil dari apa yang mereka baca, bukan dari apa yang mereka lakukan atau kerjakan sehingga, apa yang mereka tuliskan itu cenderung ambigu, kurang mengena, tidak mudah dipahami dan bertele-tele

Beberapa pembahasan memang tidak harus sesuatu yang seringkali dipraktekkan atau dilakukan seorang penulis, namun bisa saja merupakan topik yang abstrak namun seringkali dibahas dan dijelaskan. Untuk topik yang seperti ini, mau tidak mau seorang penulis harus mau membaca. Menjadikan membaca sebagai sebuah kebiasaan yang dilakukan dari hari ke hari dan dari waktu ke waktu. Hal ini tentunya demi memunculkan inspirasi inspirasi dan pemahaman baru yang bisa dituliskan di dalam bukunya dan karya tulisnya.

Ketiga tidak memiliki target menulis

Orang yang bersungguh-sungguh dalam menulis harus memiliki target. Baik itu harian, mingguan, atau bahkan bulanan. Dengan target yang jelas, tulisan akan benar-benar terkumpul dan bisa dibaca atau pada akhirnya nanti bisa dicetak dan diterbitkan. Target akan membantu seseorang untuk mengingat apa dan kapan harus menulis.

Ibarat seorang petani, tentunya seorang petani memiliki dan jadwal tentang Kapan dan bagaimana dia akan menanam dan jenis tanaman apa yang mau dia tanam. Sehingga pada andi dia benar-benar panen sesuai dengan yang dia inginkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *