Canggih! Masker Pendeteksi Virus Corona Sedang Dikembangkan oleh Ilmuan

By | November 16, 2020

Seorang insinyur biomedis MIT (Massachusetts Institute of Technology) melakukan kerjasama dengan Universitas Harvard untuk mengembangkan masker pendeteksi virus corona.

Disebutkan cara kerja masker tersebut yaitu masker akan menyala saat virus corona atau covid-19 terdeketsi. Hal ini tentu menjadi berita baik mengingat pandemi belum berakhir.

Ya, Jim Collins selaku insinyur MIT ini menjadikan pandemi sebagai perhatian utama  selama bertahun-tahun, bahkan sebelum munculnya wabah covid-19 di Wuhan Cina akhir bulan Desember 2019 lalu .

Sejak 2014 silam, Laboratorium bioteknologi MIT sudah mulai mengembangkan sensor yang mampu mendeteksi virus Ebola saat virus tersebut menempel pada selembar kertas.

Pertama kali sekelompok ilmuwan Harvard dan MIT menerbitkan penelitiannya itu tahun 2016 silam. Waktu itu, sekelompok ilmuan ini merancang teknologi canggih untuk mencegah serangan virus Zika.

Saat ini, para ilmuan ini hanya butuh menyesuaikan lagi mengenai teknologi sensor yang mereka rancang untuk mengidentifikasi atau mendeteksi virus covid-19 yang kini sudah mewabah dan menewaskan jutaan orang diseluruh dunia.

Baca Juga: Dampak-Dampak Negatif Internet Bagi Anak Sekolah Yang Harus Diketahui

Mengenal Makser Pendetekasi Virus Corana

Canggih! Masker Pendeteksi Virus Corona Sedang Dikembangkan oleh Ilmuan

Dengan dirancangnya makser pendeteksi virus corona oleh para ilmuan dari Harvard dan MIT ini semoga bisa membantu memutus rantai covid-19. Disebutkan sebelumnya bahwa para ilmuan tersebut sebelumnya juga merancang sensor untuk mendeteksi virus Ebola dan Virus Zika.

Mari kita ulas lebih dalam mengenai masker pendeteksi virus corona ini yang akan menyala jika ada terdeteksi ada virus corona di sekitar masker tersebut. Apakah masker tersebut akurat bisa mendeteksi virus corona? Mari kita bahas ya.

Perancangan Masker Pendeteksi Virus Corona

Perancangan masker pendeteksi virus corona ini dirancang oleh Jim Collins dan sejumlah tim yang merupakan kerjasama antara Harvard dan MIT. Masker tersebut nantinya akan menghasilan sensor atau sinyal fluorenses.

Sinyal ini akan bekerja atau mendeteksi dengan cara menyala jika orang yang positif covid-19 tersebut batuk, bernafas atau bersin.

Jika teknologi yang dirancang ini berhasil terbukti, maka masker pendeteksi virus corona-19 rancangan Collins dan tim ini mampu membantu dan meminimilasir penggunaan pengukur suhu badan dan thermal gun dalam melakukan skrining atau mendeteksi Covid-19

Collins menuturkan bahwa masker tersebut berguna saat melewati bagian pemeriksaan keamanan, baik itu saat di bandara, stasiun, terminal, maupun tempat lainnya.

Collins juga menambahkan bahwa bisa masker tersebut juga bisa digunakan mau bekerja ke kantor. Pasien dapat menggunakannya saat mereka tengah masuk atau pun menunggu di bagian ruang tunggu sebagai yang biasanya ada skrining untuk mendeteksi siapa saja yang terinfeksi.

Masker ini juga berguna untuk para tenaga medis atau dokter. Ya, Dokter mungkin dapat memanfaatkan masker tersebut untuk mendiagnosis para pasien di tempat tanpa perlu mengirim sampel terlebih dahulu ke laboratorium.

Teruji Akurat

Collins kembali menuturkan bahwa proyek yang sedang dikerjakan dengan timnya di laboratoriumnya sekarang ini memang masih ‘tahap sangat awal,’ namun hasilnya menjanjikan dan teruji akurat.

Timnya telah menguji selama beberapa pekan terakhir mengenai kemampuan sensor atau sinyal untuk mendeteksi keberadaan virus corona  dengan menggunakan sampel air liur.

Bukan hanya itu, timnya juga melakukan eksperimen dengan desainnya. Sekarang ini, tim collins tengah membahas lebih dalam apakah sensor akan ditanam di dalam masker ataukah mengembangkan modul yang mampu dipasang pada masker lalu dijual bebas.

Collins dan timnya ini sangat berharap dalam beberapa pekan ke depan sudah dapat menunjukkan konsepnya tersebut  berfungsi dengan baik ke publik.

Collins kembali menuturkan jika masker sudah berfungsi, maka tahap selanjutnya menyiapkan uji coba terhadapt individu yang memang terinfeksi untuk tahu apakah teknologi tersebut bekerja dengan baik dalam dunia nyata karena sebelumnya hanya melalui sampel air liur saja.

Mampu Mengindentifikasi Virus dengan Baik

Sensor pada masker ini secara umum terbukti mampu melakukan identifikasi virus dengan baik dan akurat. Contohnya tahun 2018 silam, sensor yang dirancang laboratorium MIT ini mampu mendeteksi atau mengidentifikasi virus SARS, West Nile, influenza, campak, hepatitis C, dan beberapa penyakit lainnya.

“Awalnya, kami melakukan uji coba ini untuk membuat diagnostik dengan menggunakan kertas  murah. Dalam tahap perkembangannya ini, kami ternyata mampu menggunakannya bukan hanya pada kertas, tapi juga pada kuarsa, plastik, serta kain,” tutur Collins.

Menggunakan Bahan Bahan Genetik DNA dan RNA

Sensor yang dirancang oleh  Collins dan timnya ini menggunakan bahan genetik DNA & RNA yang memang berhubungan dengan virus. Bahan tersebut dibekukan lalu keringkan ditarus di atas kain dengan menggunakan mesin lyophilizer.

Cara kerja mesin liyophilizer ini yaitu mesin akan  menyedot uap air dengan menggunakan bahan genetik tersebut tanpa perlu membunuhnya.

Selama beberapa bulan, bahan genetik ini dapat tetap stabil berada dalam suhu kamar, sehingga masker ini pun memiliki usia penyimpanan yang cenderung lama.

Untuk mengaktifkan sensor tersebut membutuhkan dua hal, yaitu: pertama, kelembaban yang dikeluarkan oleh tubuh lewat partikel pernapasan seperti air liur atau lendir; Kedua, sensor  butuh mendeteksi atau mengidentifikasi urutan genetik virus.

Collins kembali menyampaikan bahwa sensor rancangannya ini hanya butuh mengidentifikasi atau mendeteksi bagian kecil dari urutan gen untuk menemukan virus. Setelah virus terdeteksi, dalam waktu satu hingga tiga jam, sensor pun mengeluarkan sinyal fluoresens.

Sinyal Tidak Dapat Dilihat oleh Mata Telanjang

Sinyal pendeteksi virus tersebut tidak dapat dilihat menggunakan mata telanjang, jadi Collins  dan timnya memafaatkan perangkat flourimeter untuk dapat mengukur cahaya fluoresens.

Di luar laboratorium, menurut Collins para pejabat dapat menggunakan flourimeter tangan yang memiliki harga kurang lebih satu dolar untuk dapat memindai masker.

Mungkin sensor rancangan Collins ini menawarkan bentuk identifikasi atau deteksi virus yang lebi cepat, lebih sensitif dan tentunya murah, dibandingkan tes diagnostik tradisional.

Karena sensor rancangan Collins ini sangat spesifik, makanya mampu mendeteksi atau mengidentifikasi beragam jenis virus. Contohnya dalam kasus virus Zika, sensor rancangan Collins ini mampu mengidentifikasi satu strain dari Asia, satu dari Amerika, dan dua dari Afrika.

Kapan Masker Sensor Akan Dijual?

Collins dan timnya merasa yakin bahwa sensor rancangannya ini mampu mengidentifikasi atau mendeteksi lebih banyak virus, tanpa perlu menyebutkan gejalanya.

Sedangkan alat pendeteksi suhu tubuh yang digunakan di tempat umum seperti bandara, stasiun, terminal, kantor dan lainnya, kerapkali melewatkan banyak orang tanpa yang tidak memiliki gejala atau pra-gejala, dan lainnya.

Baca Juga: 5 Tips Merawat Kulit kering Agar Tampak Lebih Sehat

” Sekarang ini tim kami terbatas oleh waktu dan anggota, karena kami hanyalah tim yang kecil. Kami juga memili keterbatasan berapa hal di laboratorium. Meski demikan, kami semua akan bekerja keras sesuai yang kami bisa,” turur Collins.

Semoga masker sensor pendeteksi virus corona ini segara selesai dirancang dan diuji coba langsung ke individu yang terpapar virus corona.

Dengan adanya masker sensor ini tentu sangat membantu sekali karena tidak virus akan langsung terdeteksi di tempat tanpa harus menunggu hasil lab yang membutuhkan waktu dua pekan lebih. Mari kita tunggu hasilnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *